Tuesday, September 21, 2010

Belajar Merawat Jenazah

PONOROGO - Puluhan anak laki-laki dan perempuan tam­pak duduk manis di dalam masjid. Sementara seorang ustadzah tengah membimbing beberapa santri perempuan membopong sesosok bayi yang temyata boneka. Pagi itu para santri cilik TPA masjid Al Mutaqin Ngunut, Babadan, Ponorogo tengah belajar merawat jenazah. Boneka berukuran besar yang diibaratkan sebagai jenazah pak Ahmad, mereka rawat dengan baik. Mulai memandikan, mengafani hingga menguburkan.

Diawali dengan memandikannya, boneka pak Ahmad dibopong menuju sumur masjid. Beberapa santriwati tanpa canggung mulai memandikan jenazah dengan tata cara sesung­guhnya. Bagian-bagian tubuh jenazah digosok dan disiram dengan air secara hati-hati dan teliti.Tiga gadis cilik bertugas memangku jenazah' sedangkan dua orang lainnya bertugas membersihkan. Setelah dimandikan jenazah dibopong ke da­lam masjid untuk dikafani. Berbagai perlengkapan perawatan jenazah sudah tersedia, seperti kain kafan, kain jarit, kapas dan keranda. "Ini pengalaman pertama. Tadinya takut kalau lihat jenazah, tapi Setelah belajar seperti ini, ya, tidak apa-apa. Senang malahan," kata Alfi (12) salah satu santriwati.

Tiga lapis kain kafan sudah disiapkan, dan jenazah pun dibubuhi kapas di beberapa bagian tubuhnya seperti hidung, mata, ketiak, lutut dan lainnya. Setelah dikafani, jenazah pun mereka shalatkan yang dipimpin oleh santri cilik. Sebelum diberangkatkan ke liang lahat, jenazah diupacarakan terlebih dahulu di halaman masjid, layaknya jenazah sesungguhnya. "Bapak-bapak, ibu-ibu, inna lillahi wa innaillaihi raijun. Pak Ahmad telah dipanggil Allah mendahului kita semua. Segala yang ditinggalkan pak Ahmad menjadi tanggungan keluarga termasuk hutang piutang," begitu celoteh seorang 'ustadz' cilik terbata bata. Sambil membaca secarik kertas, santri bertubuh tambun itu memimpin pemberangkatan jenazah ke liang lahat.

Empat orang santri bergantian memikul keranda mini itu ke liang lahat. Tak lupa para orangtua santri mengikuti iring-iringan itu ke Hang lahat. "Ini merupakan pembelajaran bagi-anak-anak. Karena merawat jenazah mempakan kewajiban kita semua. Selain untuk menghilangkan rasa takut anak-anak terhadap jenazah," kata Siti Hariyati pembina TPA Al-Mutaqin.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment