Showing posts with label Ekonomi. Show all posts
Showing posts with label Ekonomi. Show all posts

Friday, March 18, 2011

Naik Kelas

Oleh: Iman Supriyono

McDonalds Plaza Marina, Desember 2010. Begitu berjabat tangan dan mengucap salam, saya langsung menuju tempat parkir. Tidak seperti saat saya masuk, jalan akses menuju tempat parkir di belakang plaza sangat sepi. Lampu-lampu sudah dimatikan. Petugas parkir sudah tidak ada.

Suasana lengang ini makin terasa begitu sampai di mobil. Halaman parkir yang luas sudah kosong. Satu-satunya yang masih tersisa adalah mobil saya. Jalan keluar halaman parkirpun sudah terkunci. Maka, setengah jam lebih saya butuhkan untuk mencari dan meminta bantuan petugas jaga untuk membuka pintu dan akhirnya bisa keluar dan tempat parkir.

Jam tangan menunjukkann pukul setengah dua dini hari saat mobil yang saya kendarai keluar dari tempat parkir. Ini tidak lain karena keasyikan ngobrol dengan seorang kawan pebisnis pulsa seluler. Duapuluh lebih outlet pulsa hand-phone yang dimilikinya membutuhkan sesuatu untuk menjadi lebih besar. Diskusi di sebuah plaza kota Pahlawan yang asyik sampai dini hari tidak lain adalah bentuk keseriusan kawan itu untuk berkembang.

***

Hari-hari ini dunia teknologi informasi di tanah air diramaikan oleh `pertengkaran' antara Menkominfo dengan BlackBerry. Menkominfo mengancam untuk memblokir produk laris dari RIM Kanada itu. Alasannya, RIM dianggap tidak mau mengikuti aturan yang ada. RIM diang¬gap tidak taat.

Komentar berbagai media luar biasa sera. Di jejaring sosial internet, komentar pro-kontra bertubi-tubi. Koran, TV, radio.... semua asyik membicarakannya. Ini yang membuat saya jadi tertarik untuk mencari informasi yang lebih detail tentang RIM.
RIM didirikan di Kanada pada tahun 1984 oleh Mike Lazaridis. Entrepreneur kelahiran Turki ini memulai debut bisnisnya dengan membuat pager dua arch bersama Ericsson. Produk pertamanya diluncurkan pada tahun 1998 dengan dukungan sebuah perusahaan modal ventura Kanada. Dibutuhkan waktu 14 tahun untuk menghasilkan sebuah produk.
Kini Mike telah sukses membawa RIM menjadi

produsen piranti telekomunikasi modern Black-Berry. Hingga kini gadged yang dikenal dengan sebutan BB ini telah melayani lebih dari 40 juta pelanggan di 175 negara. Pada tahun 2010 saja, RIM berhasil menjual 37 juta unit BB. Tahun lalu RIM mengantongi omset USD 15 Miliar (Rp 140 Triliun lebih) dengan asset USD 10 Miliar (Rp 90 Triliun lebih). Bandingkan dengan raksasa operator seluler Telkomsel yang beromset Rp 40 Triliun dan beraset Rp 59 Triliun. RIM jauh lebih besar. Pantesan aja Menkominfo sampai hams `bertengkar' dengan raksasa telekomunikasi Kanada ini.
***
Dengan 20 outlet lebih yang gedungnya sudah banyak dimiliki sendiri, prestasi kawan ngobrol di McD ini sudah luar biasa. Omset bulanan sudah dalam bilangan milyar. Uang sudah di ta- ngan. Mobil dan rumah bagus sudah bisa dibeli. Perjalanan ke luar negeri juga bukan lagi barang mewah. Maka, malam itu fokus pembicaraan adalah bagaimana mencapai sesuatu yang lebih baik. Bukan lagi sekedar mencari uang. "PR"
yang lebih penting adalah ber¬investasi dengan membangun sistem manajemen yang bagus untuk bisa menjadi landasan `naik kelas'. Menjadi sebuah perusahaan bergerak di sektor terkait seluler berkelas nasional seperti Telkomsel atau bahkan berkelas dunia seperti RIM.

Masalahnya, saat ini hampir seluruh waktunya sudah penuh dengan rutinitas bisnis. Mengelola puluhan ribu transaksi harian tenth saja sangat rumit. Apalagi keputusan-keputusan penting masih dipe¬gangnya sendiri. Tidak ada waktu untuk membuat sistem manajemen yang dibutuhkan untuk `naik kelas'. Di sinilah kawan ini membutuhkan bantuan pihak lain. Dini hari itu saya yang siap membantu sedang mencari titik temu. Harapannya, kawan ini akan sekelas Lazaridis. Naik kelas. Bedanya, sebagai warga negara, tenth saja kawan ini akan taat aturan dan taat pajak. Supaya Pak Menkoninfo ndak perlu bertengkar dengan RIM. Bisa! Anda juga bisa!

Tuesday, September 14, 2010

Menyeragamkan, Diseragamkan

Oleh: Iman Supriyono
Strategic Finance Specialist pada SNFConsulting,
Anggota Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan PWM Jatim

Kala kecil di desa, menonton ludruk, wayang kulit atau ketoprak adalah sebuah keme­wahan. Belum tentu setahun sekali bisa menikmati kesenian tradisional ini. Maka, adalah sebuah momen penting jika sesekali ada tetangga kaya yang punya hajat dan memberikan hiburan ketoprak, wayang kulit, atau ludruk secara gratis. Jarang-jarang ada kesempatan seperti ini.

Ada dua kenikmatan menonton pagelaran seni drama tradisional itu. Yang pertama adalah menonton isi ceritanya. Salah satu yang saya suka adalah cerita tentang kesaktian para tokohnya. Dengan keris atau mantra-mantra tertentu, seorang tokoh dalam ketoprak bisa mengalahkan musuh-musuhnya yang seolah sudah tidak mungkin dikalahkan. Cerita yang masih dekat dengan kehidupan keseharian anak-anak di tengah-tengah orang-orang tua yang rata-rata masih punya keris atau senjata senjata dikeramatkan yang lain.

Kenikmatan kedua adalah musiknya. Mendengarkan gamelan langsung di dekatnya memberikan nuansa akustik yang benar eksotis. Sampai sekarang pun saya masih sangat menikmati. Band-band sekarang atau pagelaran orkestra lengkap pun di telinga saya masih kalah indah dibanding mendengarkan gamelan langsung. Bukan gamelan yang lewat rekaman atau sound system.

Begitu meninggalkan kampung halaman, jarang sekali ada kesempatan menikmati ludruk, ketoprak, atau wayang dengan gamelan akustiknya. Maka, untuk sekedar klangenan, di komputer saya banyak menyimpan file-file gending Jawa dengan iringan Baron, peking, demung, selentem, bonang, rincik kenong, kendang, kempul, gong, rebab, gambang dan sejenisnya. Beberapa file juga saya simpan di handphone sebagai nada dering saat menerima telepon atau SMS.

*****

Musik apa ini? Kok seperti musik pengiring tari-tarian di sekolah? Itulah komentar anak saya ketika pertama kali mendengarkan handphone saya berbunyi dengan nada dering gamelan. Tampak sekali ke-tidak-familiaran-nya dengan gamelan Jawa. Telinganya sudah tidak seperti telinga saya lagi. Se- hari-hari lebih sering mendengarkan nyanyian yang diiringi gitar, elekton, piano, drum, dan sejenisnya. Alat musik Barat memang selalu didengarkan tiap hari melalui radio, televisi, handphone. pemutar MP3 di komputer, di bus, mall, pasar, berbagai tempat umum, internet. game, dan di mana saja.

Bahkan yang menarik, musik seperti yang familiar di telinga anak saya juga familiar di telinga anak-anak lain di berbagai penjuru dunia. Nama-nama seperti Shakira, Britney Spears, Madonna akrab di telinga anak-anak di seluruh dunia. Tentu dengan iringan alat musik Barat. Bukan gamelan. Maka, telinga anak-anak dan hampir siapapun di seluruh dunia jadi seragam.

Keseragaman telinga dan selera musik ternyata bukanlah fenomena tunggal. Masih banyak lagi fenomena keseragaman sejenis. Di manapun di seluruh dunia, orang menyemir sepatu dengan Kiwi. Naik mobil dengan merek Toyota, Honda atau sejenisnya. Mandi dengan sabun berlogo Unilever
atau P&G. Bertransaksi dengan kartu berlogo Visa atau Master. Nongkrong di mall menikmati
kopi di Starbucks. Bekerja dengan komputer berprogram Windows dan processor Intel. Menggemari permainan bola team Spanyol. Ketemu kawan-kawan sambil makan Siang di McDonalds atau KFC. Ke kantor dengan baju kemeja dan celana panjang. Menginap dan tidur di Mercure, JW Mariot, No­votel, atau sejenisnya. Belanja di Carrefour atau Giant. Giat mengkampanyekan bahasa Inggris. Bila dilanjutkan, halaman majalah ini tidak cukup untuk menampung segala fenomena keseragaman ini.

Itulah dunia saaat ini. Dunia yang seragam. Dalam arus besar yang nyaris tak terbendung ini, hanya ada dua kemungkinan posisi: diseragamkan atau menyeragamkan. Jepang menyeragamkan dunia dengan Yamaha, Honda dan masih banyak lagi. Amerika menyeragamkan dunia dengan McD, KFC, Windows, Intel, Semir Kiwi, dan sebagainya. Korea menyeragamkan dunia dengan Hyundai, LG, Samsung dan sebagainya. Kita? Nyatalah bahwa selama ini kita pada pihak yang diseragamkan. Anak saya merasakannya. Saya juga. Anda juga. Kapan menyeragamkan? Saya menuliskan strategi untuk mencapainya dalam buku ke 8 Anda Jago Kandang atau Kelas Dunia? yang Ramadhan ini insya Allah sudah bisa Anda nikmati. Yang jelas diperlukan energi besar. Perlu kerja keras. Perlu puasa finansial untuk bisa berinvestasi. Ramadhan tahun ini moga cukup memberi energi.

Selamat berpuasa. Bisa!