Pengasuh: Lely Ika Mariyati, S.Psi.
Konsultan Psikologi di Lembaga Pendidikan Orang Tua dan Anak Dinar
Saya adalah seorang Ibu yang memiliki 3 anak laki-laki. Yang pertama berusia 7 tahun, yang kedua 6 tahun, dan terakhir 2 tahun. Anak pertama cukup pendiam dan suka membaca, bahkan setiap 1 ming¬gu sekali dia selalu minta diantar ke perpustakaan dekat sekolah. Sementara anak kedua kebalikannya, yang menurut saya, dia sangat aktif dan suka bermain dengan teman-teman sebayanya. Kalau saya minta belajar sama kakaknya, dia tidak pernah mau.
Saya pernah mendengar dari seorang psikolog bahwa orangtua tidak boleh membanding-bandingkan anak yang satu dengan lainnya. Namun, saya sering melakukannya karena saya berharap anak kedua suka membaca dan belajar seperti anak pertama. Cara saya membandingkan biasanya dengan kalimat: "Dik lihat tuh kakakmu lagi asyik membaca, mbok kamu seperti itu! Mama papa pasti senang dan kalau adik bisa seperti itu. Nanti mama kasih hadiah". Apa cara saya ini benar-benar salah, terus apa yang harus saya lakukan? Saya cuma ingin anak saya bisa menjadi anak yang baik
Ibu ID,Tulungagung
Terima kasih atas kepercayaan Ibu Id dengan mengkonsultasikan permasalahan pada kami. Sebenarnya, dari cerita singkat ini, tampak sekali bahwa Ibu adalah seseorang yang sangat menyayangi putra-putrinya.
Memang benar bahwa membanding-bandingkan anak satu dengan yang lain adalah pendekatan atau pola hubungan yang tidak mendidik pada seorang anak. Sikap favoritisme orangtua terhadap seorang anak, baik berdasarkan pada tampilan fisik, perbedaan sikap dan perilaku laku, sadar ataupun tidak, secara psikologis akan memicu perbedaan dedikasi emosional dalam perlakuan orangtua terhadap anak-anaknya:
Pada dasarnya, perhatian, kasih, dan sayang orangtua adalah kebutuhan yang paling utama bagi perkembangan anak. Sikap favoritisme pada salah satu anak akan memicu terjadinya persaingan antar saudara kandung atau sibling rivalry. Perbedaan usia anak pertama dan kedua Ibu Id yang terlalu dekat sangat beresiko terjadinya rivalry karena pada saat yang sama, mereka membutuhkan perhatian yang sama untuk perkembangannya.
Kalimat yang Ibu contohkan untuk memotivasi anak kedua adalah kalimat membandingkan. Namun hasilnya malah sebaliknya. Anak bukan terpacu, tetapi justru makin merasa tersudut dan menganggap dirinya bukanlah apa-apa atau seseorang yang tidak punya arti apa-apa. Untuk menggantikan perasaan ketidakberdayaannya, menurut Hurlock (seorang ahli psikologi perkembangan), anak akan menunjukkan dua macam reaksi. Pertama, bersifat langsung, yang dimunculkan dalam bentuk perilaku agresif mengarah ke fisik, seperti menggigit, memukul, mencakar, melukai dan menendang, atau usaha yang dapat diterima secara sosial untuk mengalahkan saingannya. Kedua, reaksi tidak langsung yang bersifat lebih halus sehingga sukar untuk dikenali, seperti mengompol, pura-pura sakit, menangis dan menjadi nakal.
Oleh karena itu, pandanglah anak sebagai individu yang unik. Kenalilah anak kedua Ibu sebagai sosok yang memiliki potensi. Sehingga Ibu tidak perlu memaksakan suatu tindakan yang pada dasarnya tidak sesuai dengan karakter anak. Selain itu, janganlah terlalu pelit dalam memberikan pujian pada anak atas setiap sikap atau perilaku yang positif, dan bersikap proporsional serta memperbanyak diskusi dalam menyikapi pelanggaran yang dilakukan anak. Pujian ini sangat diperlukan untuk memperkuat motivasi anak dalam melakukan hal-hal baik.
Akhirnya, dengan para orangtua seperti itu, anak akan merasa bangga akan dirinya sendiri sehingga anak pun akan merasa optimis dan terdorong untuk mempelajari hal-hal bare termasuk pelajaran di sekolahnya. Biarlah anak tumbuh seperti bunga di alam dengan iramanya masing-masing. Semua anak mempunyai pesona yang berbeda-beda.
Menegakkan dan Menjunjung Tinggi Agama Islam terwujud Masyarakat Islam yang Sebenar-benarnya.
Showing posts with label Konsultasi Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Konsultasi Keluarga. Show all posts
Thursday, March 10, 2011
Thursday, February 10, 2011
Anak Indigo
Pengasuh Konsultasi Keluarga Majalah MATAN, sava adalah seorang ibu yang memiliki seorang putra berusia 3,5 tahun. Anak ini biasanya sangat periang dan lincah, yang saat ini sedang menenipuh PAUD. Han * Va saja. akhir-akhir ini sava merasa cemas kar- ena dia mulai susah jika diminta berangkat ke PAUD. Ketika sava tan va alasannya, katanYa takut karena di sekolah ada hantu. Rasa takut ini tern ' vatajuga terjadi saat dia berada di tempat lain, sehingga dia sering kelihatan takut dan minta pulang karena 'katanya; dia melihat orang yang perutnya bolong, mukanya jelek, dan lain-lain yang menyeramkan.
Sebenarnnya awal saya sadari 'keabnormalan'anak saya itu belum seberapa lama. Tepatnya, saat dia saya ajak menjenguk teman yang sakit di salah satu rumah sakit di Surabaya. Saat itu dia bercerita melihat hantu jelek dan mengajak pulang. Setelah itu, 'penvakit' ini ternyata'juga menular di beberapa tempat lain. Saya sudah bet-usaha tetap tenang dan tersetnyum ketika dia melihat penampakan ' tersebut dan mengatakan agar tidak takut. Tapi apakah yang sava lakukan ini sudah benar?
Terus, sava pernah mendengar istilah anak indigo, apakah anak saya termasuk indigo? Bagaimana cara mendidiknya? Karena saya berharap dia bisa hersemangat dan berprestasi dalam kehidupannya kelak.
Muhimmatul, Surabaya
Ibu Muhimmatul yang lagi gelisah, kami mengerti bahwa melihat sesuatu yang menyeramkan, otomatis akan membuat kita merasa takut atau bahkan bisa menjadi trauma. Jika kegelisahan Ibu muncul karena Ananda mampu melihat `penampakan. tersebut, saya yakin bahwa itu adalah bagian dan rasa sayang Ibu terhadap putranya. Rasa sayang yang Lulus orangtua adalah faktor penentu kesuksesan hidup seorang anak kelak.
Menurut Lee Carroll dan Jan Tober dalam. The Indigo Children (2006). istilah indigo berasal dari bahasa Spanyol berarti warna nila. Yaitu percampuran warna biru dengan ungu. Ini adalah warna aura anak indigo. Dalam istilah ilmiah, anak indigo mempunyai ESP (Extra Sensory Perception), yang dalam bahasa sehari-hari disebut indera keenam. Setiap orang pasti memiliki kemampuan ESP atau indera keenam. Tapi pada anak indigo, kemampuan ini menjadi begitu tajam. Termasuk salah satunya mampu melihat hal-hal yang ghaib dan memiliki kemampuan spiritual tinggi, sehingga bisa melihat sesuatu yang belum terjadi.
Anak indigo cenderung memiliki IQ yang tinggi. Meski secara fisik anak ini sama dengan anak-anak yang lain, namun jika kita perhatikan ucapan yang mereka d1utarakan, akan kita temui kesan bijak dan penuh hikmah. Rasa ingin tabu anak indigo terhadap sesuatu cukup tinggi. Sehingga ketika ditanyakan ke orangtuanya. mereka sering kewalahan untuk menjawabnya.
Apa yang dialami oleh Ananda bisa jadi merupakan salah satu ciridani Indigo tersebut. Namun indigo tidak tercipta karena faktor keturunan, bukan karena sesuatu hal yang dipelajari. Bukan merupakan kelainanjiwa atau suatu penyakit. Keindigoan seseorang muncul karena suatu anugrah Allah swt. Hanya saja, keindigoan akan menjadi masalah jika Ananda menjadi tidak nyaman dan takut ketika berada di suatu tempat, terutama ketika harus menempuh pendidikan. Karena hal ini jelas akan berpengaruh terhadap turunnya prestasi Ananda.
Menangani anak indigo, sebelum masa dewasa, bertujuan agarAnanda bisa beradaptasi dengan kemampuannya dan dengan lingkungan sosialnya. Menumpulkan kemampuan indra keenamnya tersebut adalah salah satu cara agar Ananda mampu bersikap seperti anak-anak normal lainnya. Karena itu, sikap Ibu yang berusaha tetap tenang ketika melihat ekspresi takut Ananda adalah langkah yang tepat. Sebab, ketika orang di sekitarnyaJuga berekspresi takut. hal itu akan membuat Ananda semakin merasa takut dan tidak merasa nyaman.
Selain itu, berikan penjelasan bahwa apa yang dilihatnya hanya kebetulan. Sehingga Ananda menjadi tidak tersiksa batinnya dan tidak merasa. takut. Hal yang tak kalah penting, adalah melibatkan anak indigo pada berbagai kegiatan kelompok, terutama dengan teman sebayanya. Lanakah ini bermanfaat untuk lebih menyeimbangkan kerja IQ mereka yang tinggi dengan hubungan sosial bersama di lingkungannya. Juga melatih kemampuan beradaptasinya dan membiasakan Ananda mengalihkan diri dari hal-hal yang ghaib.
Demikian jawaban kami, semoga bisa membantu membuat Ananda kembali bersemangat.
Sebenarnnya awal saya sadari 'keabnormalan'anak saya itu belum seberapa lama. Tepatnya, saat dia saya ajak menjenguk teman yang sakit di salah satu rumah sakit di Surabaya. Saat itu dia bercerita melihat hantu jelek dan mengajak pulang. Setelah itu, 'penvakit' ini ternyata'juga menular di beberapa tempat lain. Saya sudah bet-usaha tetap tenang dan tersetnyum ketika dia melihat penampakan ' tersebut dan mengatakan agar tidak takut. Tapi apakah yang sava lakukan ini sudah benar?
Terus, sava pernah mendengar istilah anak indigo, apakah anak saya termasuk indigo? Bagaimana cara mendidiknya? Karena saya berharap dia bisa hersemangat dan berprestasi dalam kehidupannya kelak.
Muhimmatul, Surabaya
Ibu Muhimmatul yang lagi gelisah, kami mengerti bahwa melihat sesuatu yang menyeramkan, otomatis akan membuat kita merasa takut atau bahkan bisa menjadi trauma. Jika kegelisahan Ibu muncul karena Ananda mampu melihat `penampakan. tersebut, saya yakin bahwa itu adalah bagian dan rasa sayang Ibu terhadap putranya. Rasa sayang yang Lulus orangtua adalah faktor penentu kesuksesan hidup seorang anak kelak.
Menurut Lee Carroll dan Jan Tober dalam. The Indigo Children (2006). istilah indigo berasal dari bahasa Spanyol berarti warna nila. Yaitu percampuran warna biru dengan ungu. Ini adalah warna aura anak indigo. Dalam istilah ilmiah, anak indigo mempunyai ESP (Extra Sensory Perception), yang dalam bahasa sehari-hari disebut indera keenam. Setiap orang pasti memiliki kemampuan ESP atau indera keenam. Tapi pada anak indigo, kemampuan ini menjadi begitu tajam. Termasuk salah satunya mampu melihat hal-hal yang ghaib dan memiliki kemampuan spiritual tinggi, sehingga bisa melihat sesuatu yang belum terjadi.
Anak indigo cenderung memiliki IQ yang tinggi. Meski secara fisik anak ini sama dengan anak-anak yang lain, namun jika kita perhatikan ucapan yang mereka d1utarakan, akan kita temui kesan bijak dan penuh hikmah. Rasa ingin tabu anak indigo terhadap sesuatu cukup tinggi. Sehingga ketika ditanyakan ke orangtuanya. mereka sering kewalahan untuk menjawabnya.
Apa yang dialami oleh Ananda bisa jadi merupakan salah satu ciridani Indigo tersebut. Namun indigo tidak tercipta karena faktor keturunan, bukan karena sesuatu hal yang dipelajari. Bukan merupakan kelainanjiwa atau suatu penyakit. Keindigoan seseorang muncul karena suatu anugrah Allah swt. Hanya saja, keindigoan akan menjadi masalah jika Ananda menjadi tidak nyaman dan takut ketika berada di suatu tempat, terutama ketika harus menempuh pendidikan. Karena hal ini jelas akan berpengaruh terhadap turunnya prestasi Ananda.
Menangani anak indigo, sebelum masa dewasa, bertujuan agarAnanda bisa beradaptasi dengan kemampuannya dan dengan lingkungan sosialnya. Menumpulkan kemampuan indra keenamnya tersebut adalah salah satu cara agar Ananda mampu bersikap seperti anak-anak normal lainnya. Karena itu, sikap Ibu yang berusaha tetap tenang ketika melihat ekspresi takut Ananda adalah langkah yang tepat. Sebab, ketika orang di sekitarnyaJuga berekspresi takut. hal itu akan membuat Ananda semakin merasa takut dan tidak merasa nyaman.
Selain itu, berikan penjelasan bahwa apa yang dilihatnya hanya kebetulan. Sehingga Ananda menjadi tidak tersiksa batinnya dan tidak merasa. takut. Hal yang tak kalah penting, adalah melibatkan anak indigo pada berbagai kegiatan kelompok, terutama dengan teman sebayanya. Lanakah ini bermanfaat untuk lebih menyeimbangkan kerja IQ mereka yang tinggi dengan hubungan sosial bersama di lingkungannya. Juga melatih kemampuan beradaptasinya dan membiasakan Ananda mengalihkan diri dari hal-hal yang ghaib.
Demikian jawaban kami, semoga bisa membantu membuat Ananda kembali bersemangat.
Friday, September 10, 2010
Jika Suami Tak Romantis
Diasuh Oleh: Lely Eka Mariyati, S.Psi.
Konsultan Psikologi di Lembaga Pendidikan Orang Tua dan Anak Dinar
Nama saya Rina, berusia 32 tahun. Saya telah menikah hampir 4 tahun dan belum mempunyai keturunan. Suami saya bukan tipe laki-laki yang romantis. Sejak awal pernikahan, dia selalu 'langsung' ketika berhubungan intim, sementara saya menginginkan lebih dari itu. Namun, saya tetap diam karena sadar bahwa suami kurang romantis. Menginjak usia pernikahan yang ke-4, suami malah jarang menyentuh saya. Saya sudah berusaha untuk 'agresif, tapi selalu menghindar Yang ingin saya tanyakan, bagaimana hukum suami yang menolak berhubungan intim dengan istrinya, serta salahkah jika istri terlalu agresif pada suami?
JAWAB
Ibu Rina yang manis, pengasuh bisa merasakan apa yang saat ini Ibu rasakan. Memang tidak nyaman, bahkan tanpa sadar kita kepinginnya marah, sedih dan bingung, karena apa yang diinginkan tidak sesuai dengan kenyataan. Apalagi kita sudah melakukan semua cara yang sudah kita tabu dan miliki. Kami juga mengapresiasi keberanian Ibu selama ini hingga mengirimkan email pada kami, mungkin bagi sebagian perempuan hal ini masih dianggap tabu. Namun, sebenarnya inilah bukti cinta Ibu pada pasangannya.
Setiap individu yang sehat dan bermoral selalu menginginkan keluarga yang sehat lahir-batin. Bahkan dua insan yang berlainan jenis setelah melakukan ijab-qabul, maka sejak detik itu pula keduanya berharap bisa membentuk pasangan yang saling memahami, membahagiakan, berbagi, dan memiliki keturunan. Pada intinya, semua ingin membangun keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah.
Kepuasan seks bagi pasangan sangat dibutuhkan, meski bukan satu-satunya bumbu penyedap dalam membangun keluarga harmonis. Situasi psikologis sebelum memulai hubungan seks adalah suatu yang penting. Memunculkan hasrat suami jangan hanya dilakukan secara verbal. Dalam buku Mars and Venus in The Bedroom, John Gray menyampaikan bahwa jika agresivitas istri dilakukan terus-menerus, suami justru akan kehilangan gairah. Jika perempuan terlalu merasa bertanggung jawab untuk selalu mengajak pasangannya bercinta, pria lambat laun akan kehilangan motivasi. Sebaliknya, John Gray menjelaskan, bila istri membiasakan diri mengajak suaminya bercinta dengan cara yang tidak langsung, dia dapat menjamin suaminya menemukan kembali sisi kejantanannya. Senyuman, model pakaian, cara berdandan, wewangian, dan badan yang bersih serta canda tawa merupakan cara tidak langsung yang bisa membangkitkan gairah suami. Seperti yang Ibnu Qayyim katakan, bersenda gurau menjadi suatu aktivitas yang penting dilakukan sebelum melakukan hubungan suami istri.
Namun, hampir semua masalah sesungguhnya terletak pada komunikasi. Jadi, apakah dalam hal ini keinginan, dan ketakutan-ketakutan Ibu sudah pernah dikomunikasikan pada pasangan? Kenapa beberapa kali suami menolak? (jangan-jangan saat itu suami dalam kondisi yang tidak memungkinkan: capek, sakit, atau yang lain bukan karena tidak suka). Apakah yang sudah Ibu
lakukan bisa membuat suami menyukai?
Allah swt berfirman dalam Surat al-Baqarah: 187:
Semoga jawaban ini bisa menjadikan pencerahan dalam merajut kebersamaan dengan pasangan tercinta.
Konsultan Psikologi di Lembaga Pendidikan Orang Tua dan Anak Dinar
Nama saya Rina, berusia 32 tahun. Saya telah menikah hampir 4 tahun dan belum mempunyai keturunan. Suami saya bukan tipe laki-laki yang romantis. Sejak awal pernikahan, dia selalu 'langsung' ketika berhubungan intim, sementara saya menginginkan lebih dari itu. Namun, saya tetap diam karena sadar bahwa suami kurang romantis. Menginjak usia pernikahan yang ke-4, suami malah jarang menyentuh saya. Saya sudah berusaha untuk 'agresif, tapi selalu menghindar Yang ingin saya tanyakan, bagaimana hukum suami yang menolak berhubungan intim dengan istrinya, serta salahkah jika istri terlalu agresif pada suami?
Rina, Surabaya
JAWAB
Ibu Rina yang manis, pengasuh bisa merasakan apa yang saat ini Ibu rasakan. Memang tidak nyaman, bahkan tanpa sadar kita kepinginnya marah, sedih dan bingung, karena apa yang diinginkan tidak sesuai dengan kenyataan. Apalagi kita sudah melakukan semua cara yang sudah kita tabu dan miliki. Kami juga mengapresiasi keberanian Ibu selama ini hingga mengirimkan email pada kami, mungkin bagi sebagian perempuan hal ini masih dianggap tabu. Namun, sebenarnya inilah bukti cinta Ibu pada pasangannya.
Setiap individu yang sehat dan bermoral selalu menginginkan keluarga yang sehat lahir-batin. Bahkan dua insan yang berlainan jenis setelah melakukan ijab-qabul, maka sejak detik itu pula keduanya berharap bisa membentuk pasangan yang saling memahami, membahagiakan, berbagi, dan memiliki keturunan. Pada intinya, semua ingin membangun keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah.
Kepuasan seks bagi pasangan sangat dibutuhkan, meski bukan satu-satunya bumbu penyedap dalam membangun keluarga harmonis. Situasi psikologis sebelum memulai hubungan seks adalah suatu yang penting. Memunculkan hasrat suami jangan hanya dilakukan secara verbal. Dalam buku Mars and Venus in The Bedroom, John Gray menyampaikan bahwa jika agresivitas istri dilakukan terus-menerus, suami justru akan kehilangan gairah. Jika perempuan terlalu merasa bertanggung jawab untuk selalu mengajak pasangannya bercinta, pria lambat laun akan kehilangan motivasi. Sebaliknya, John Gray menjelaskan, bila istri membiasakan diri mengajak suaminya bercinta dengan cara yang tidak langsung, dia dapat menjamin suaminya menemukan kembali sisi kejantanannya. Senyuman, model pakaian, cara berdandan, wewangian, dan badan yang bersih serta canda tawa merupakan cara tidak langsung yang bisa membangkitkan gairah suami. Seperti yang Ibnu Qayyim katakan, bersenda gurau menjadi suatu aktivitas yang penting dilakukan sebelum melakukan hubungan suami istri.
Namun, hampir semua masalah sesungguhnya terletak pada komunikasi. Jadi, apakah dalam hal ini keinginan, dan ketakutan-ketakutan Ibu sudah pernah dikomunikasikan pada pasangan? Kenapa beberapa kali suami menolak? (jangan-jangan saat itu suami dalam kondisi yang tidak memungkinkan: capek, sakit, atau yang lain bukan karena tidak suka). Apakah yang sudah Ibu
lakukan bisa membuat suami menyukai?
Allah swt berfirman dalam Surat al-Baqarah: 187:
Ayat ini memberikan makna mendalam tentang kondisi sebelum melakukan hubungan seks. Pola pikir salah satu pasangan dengan pasangan lain perlu disinergikan bahwa masing-masing adalah pakaian bagi yang lain. Pakaian bisa berfungsi sebagai pelindung dari panas dan dingin. Selain itu, befungsi sebagai daya tarik bagi yang melihatnya.أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُون(187) Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.
[QS. al-Baqarah (2): 187]
Semoga jawaban ini bisa menjadikan pencerahan dalam merajut kebersamaan dengan pasangan tercinta.
Subscribe to:
Posts (Atom)