Showing posts with label Kolom. Show all posts
Showing posts with label Kolom. Show all posts

Thursday, March 3, 2011

Angka dan Kata

Oleh: Nurcholis Huda

Awal Januari 2011 dalam suasana Tahun Baru, pemerintah dengan bangga mengumumkan angka kemiskinan turun 1,5 juta orang. Semula 32,5 juta, turun menjadi 31 juta. Sukses penurunan itu karena pemerintah berhasil melaksanakan program yang berpihak pada orang miskin. Benarkah? Tanya kita dalam hati.

Belum lagi keraguan hilang, pada hari yang sama muncul berita dari Jepara, Jawa Tengah: enam bersaudara anak Jamhamid meninggal akibat makan tiwul. Terpaksa makan tiwul karena Jam¬hamid yang miskin tak lagi mampu membeli beras untuk makan keluar¬ganya. Peristiwa ini terasa mengiris hati. Dua hal yang"kontras. Berita pertama, penurunan jumlah orang miskin, berita kedua: enam orang mati karena miskin. Kita tidak lagi bisa tersenyum. Kalau ada senyum, boleh jadi senyum sinis.

Apakah arti sebuah angka? Sangat besar gunanya jika ang¬kanya benar. Tetapi besar juga daya sesatnya jika tidak benar. Klaim penurunan angka kemiskinan yang rasanya belum sinkron dengan kenyataan tentu tidak bisa dijawab dengan gaya Abu Nawas.

Suatu hari seorang Menteri datang ke Abu Nawas dan bertanya berapa jumlah bintang di langit. Menteri itu ingin mempermalukan Abu Nawas yang selalu tangkas memecahkan semua hal. Penguasa ingin Abu Nawas kali ini tak berkutik. "Ah, itu mudah," jawab Abu Nawas. Menteri terkejut. Abu Nawas lalu mengambil seekor domba. "Jumlah seluruh bintang di langit sama dengan jumlah bulu di kulit domba ini," kata Abu. Menteri tidak percaya. "Kalau paduka tidak percaya, silakan hitung sendiri," kata Abu sambil ngeloyor pergi. Pemerintah tentu tidak bisa mengatakan: kalau tidak percaya jumlah orang miskin turun, hitung sendiri!

Jika angka, kata-kata, pernyataan dan pidato tidak sama dengan kenyataan, orang lebih percaya pada kenyataan dan mengabaikan angka dan kata-kata. Salman Rushdie setelah ditetapkan hukuman mati oleh Ayatullah Khomeini, dia ber¬sembunyi. Setelah agak lama berlalu dan Khomeini sudah wafat, dia sekali-sekali muncul di muka umum. Wartawan bertanya apakah dia tidak takut dibunuh orang? "Tentu saja tidak!" kata Rushdie gagah.

Tiba-tiba dari luar terdengar derit mobil yang direm mendadak disertai suara ledakan knalpot. Seketika wajah Rushdie pucat pasi. Padahal suara itu adalah mobil yang naik ke trotoar. Tentu orang lebih percaya pada wajah Rushdie yang pucat pasi, dan mengabaikan pernyataannya bahwa dia tidak takut.

Angka memang mudah dimanipulasi. Juga kata-kata se-ring dibelokkan dari makna yang jujur, makna aslinya. Jika di satu tempat diberitakan terjadi kelaparan, maka esok hari pejabat setempat membantah: tidak ada kela¬paran, cuma rawan pangan. Tidak ada busung lapar, cuma kurang gizi.

Harga tidak dinaikkan, cuma disesuaikan. Karyawan tidak di PHK (pemutusan hubungan kerja), cuma dirumahkan. Aktivis tidak ditahan, cuma diamankan. Negara donor jangan disebut memberi hutang, tapi memberi bantuan. Masih banyak deretan manipulasi kata untuk menu¬tup bopeng wajah.

Dulu Menpen Harmoko sangat rajin mengumumkan daftar harga pokok, temasuk harga cabe. Ada cabe keriting, cabe rawit, cabe hijau, cabe merah, dan berbagai jenis kebutuhan dapur lainnya. "Supaya pedagang tidak menipu pembeli," kata Harmoko. Sekarang pemerintah yang suka menjaga citra, tak bakal berani mengumumkan hal serupa. Malah cabe diusulkan tidak masuk komponen inflasi supaya angkanya tidak tinggi.

Mengapa kita lebih suka memasukkan kotoran di bawah karpet supaya tidak terlihat? Bagi kita orang miskin, deretan angka tidak memberi makna apa-apa. Yang utama, beban hidup lebih ringan, harga barang terjangkau, anak-anak bisa bersekolah dan bukan berkerumun di lampu merah meminta-minta, serta tersedia lapangan kerja sehingga hidup punya harga diri. Bukan angka, juga bukan pendapatan perkapita yang dibutuhkan.

Manipulasi angka dan kata bisa jadi cermin perilaku yang sesungguhnya. Orang yang bicara benar, perilakunya cenderung benar. Sebaliknya, bicara tidak jujur, perilakunya cenderung tidak jujur.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
(70)Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar,
(71)niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.
[QS. al-Ahzaab (33): 70-71]
Agaknya kita melangkah di tahun ini belum dengan keadaan cerah, meskipun pemerintah akan menyaj ikan angka-angka yang mengagumkan.

Thursday, February 3, 2011

Syukur

Oleh: Nur Cholis Huda
Wakil Ketua PWM Jatim

Kisah ini diambil dari bagian awal buku dwilogi 'Padang Bulan' tulisan Andrea Herata, penulis buku 'Laskar Pelangi'. Syalimah sangat gembira menden­gar suaminya, Zamzami. akan memberi hadiah kejutan. "Ja­ngan bercanda, kita orang miskin tak kenal kejutan," katanya manja. Bagi Syalimah, kejutan itu hanya milik orang kaya. Orang miskin tiap hari sudah terkejut ketika pergi ke pasar, dikejutkan harga yang terus naik.

"Sudah bertahun-tahun kau inginkan tetapi baru sekarang bisa kubelikan, maaf," kata Zamzami Kejutan apa? Zamzami tak men jawab. Sampai ketika keluar pagar dan mengayuh sepeda ke tempat kerja tidak juga dia menjawab.

Syalimah sangat mencintai suaminya, yang is kenal saat sama-sama mengaji. la tak pernah minta apa-apa. Baginya. memiliki Zamzami sudah lebih dari cukup. Keluarga adalah hartanya paling berharga.

Tengah hari sebuah mobil pick up berhenti di depan rumah­nya. Dua pria menurunkan benda yang dibungkus terpal. Syali­mah dengan gugup memandangi benda itu. Dia ingin menunggu anaknya pulang sekolah untuk membuka benda itu agar tidak sendiri bergembira. Tapi pulangnya masih lama. Maka dengan jantung berdebar dia dekati benda itu lalu dengan mata terpejam dia tarik terpal yang membungkusnya.

Ketika membuka mata dia terkejut bukan kepalang. Sebuah sepeda Sim King made in RRC. Dia ingat empat tahun lalu ketika hamil anak bungsunya, Syalimah bercanda kepada Zamzami, bukan meminta, jika nanti anak ini lahir, sepedanya tidak lagi cukup untuk membonceng keempat anaknya ke pasar malam.

Syalimah tak dapat menahan airmatanya karena ter­haru. Ternyata suaminya telah menyimpan percakapan itu bertahun–tahun dan memegangnya sebagai permintaan yang kini dipenuhi. Betapa baik hati laki-laki itu. Syalimah terisak ketika menyadari Malam nanti ada pasar malam.

Hidup anaknya perlu kejutan untuk mengalahkan rutinitas, karena rutinitas menyebabkan rasa jenuh. Terutama dalamkeluarga, perlu kejutan kecil agar hidup tetap hangar penuh gairah. Kejutan tidak harus mahal.Tapi perlu kreatif

Tetapi yang lebih penting dari kisah di atas adalah soal me­nikmati hidup yang bersumber dari rasa syukur. Kekayaan orang bisa tidak sama. Ada kaya dan miskin. Tetapi peluang menikmati hidup dibuat Tuhan sama. Pernah­kah Anda melihat orang banyak kekayaan tetapi sedikit kegembi­raan, dan orang sedikit kekayaan tetapi banyak kegembiraan?

Lihatlah Syalimah. Hadiah sepeda membuatnya gemetar dan air mata bercucuran karena luapan kegembiraan. Semen­tara banyak orang bisa membeli sepeda motor dengan perasaan biasa tanpa getar, bahkan mem­beli mobil tidak juga mengge­tarkan hatinya. Biasa-biasa saja.

Lihatlah seorang siswa SD yang mengelus-elus sepatu ba­runya dengan penuh sayang setelah bertahun-tahun memakai sepatu kekecilan dan berlubang. Sepatu baru itu hadiah dari ibu­nya setelah dia hafal i uz 'Amma. Itu uang hasil keringat sang ibu tiap hari menyeterika pak­aian tetangga. Ibunya dari jauh memperhatikan anaknya yang mengelus sepatu. Tanpa sadar airmata gembira, meleleh membasahi pipinya.

Sementara dalam keluarga kita membeli sepatu baru bukan apa-apa, sangat biasa dan hanya memberikan kegembiraan kecil. Itupun belum tentu juga.

Seorang siswa SMP melompat-lompat gembira karena ayahnya yang kuli batu memberinya buku.kamus Bahasa Ing­gris. Sudah tiga tahun dia sangat ingin punya kamus Bahasa Inggris. Kelas satu dulu, dia pernah bilang kepada bapaknya. "Nanti pasti ayah belikan kalau sudah punya uang". Betapa hormat anak itu kepada ayahnya yang sampai tiga tahun tatap mengingat janjinya, lalu memenuhinya.

Kegembiraan bisa berasal dari hal-hal kecil yang kita syu­kuri. Ingat, bukan kegembiraan yang membuat kita bersyukur. Tetapi rasa syukur yang membuat kita gembira dan bahagia. Ingat pula, dalam hidup ini ada yang tidak bisa dibeli dengan uang yaitu kesetiaan dan perhatian. Tanpa keduanya kita hanya akan menemukan hidup yang getir.

Monday, December 6, 2010

Sang Pencerah

Oleh: Nur Cholis Huda
Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur


Anda sudah nonton film 'Sang Pencerah' atau membaca novelnya? Bagi saya, ada yang baru tentang KH Ahmad Dahlan dalam film ini. Pendiri Muhammadiyah ini ternyata sangat piawai main biola. Di sampul novel 'Sang Pencerah' tulisan Akmal Nasery Basral juga bergambar Lukman Sardi (pemeran KH Ahmad Dahlan) main biola.

Hanung Bramantyo berhasil mengusung kisah kyai yang cerdas ini dengan segar. Dan khusus soal kepiawaian main biola, ditampilkan sangat inspiratif. Jazuli, salah seorang murid kyai bertanya: "Yang disebut agama itu sebenarnya apa kyai?"

Kyai tidak menjawab dengan definisi. Beliau malah mengambil biola lalu memainkan tembang Asmara Dana yang indah itu dan membuat mereka terbuai. "Apa yang kalian rasakan setelah mendengarkan musik tadi?" tanya kyai pada para santrinya

"Aku merasakan keindahan, kyai," kata Daniel. "Seperti mimpi rasanya," kata Sangidu. "Tentram. semua persoalan rasanya hilang," sambung Jazuli. "Damai sekali," tambah Hisyam.

"Itulah agama!" kata kyai sambil menatap satu persatu muridnya. "Orang beragama hidupnya merasakan keindahan, rasa tentram, dan damai. Agama itu seperti musik, mengayomi dan menyelimuti."

Kyai lalu menyerahkan biola kepada Hisyam dan menyuruh anak itu main. Hisyam menolak karena sama sekali tidak bisa main biola. Tetapi kyai terus menyuruhnya sebisanya. Maka terdengarlah suara kacau-balau, menyakitkan telinga dan mengganggu orang sekitarnya. "Nah, bagaimana dengan penampilan Hisyam tadi?" tanya kyai.

"Edan, berantakan," Jawab Hisyam. "Demikian juga agama," kata kyai. "Jika kita tidak mempelajari dengan baik, agama itu hanya akan membuat diri sendiri dan lingkungan terganggu."

Betapa sederhana dan cemerlang kyai Dahlan menjelaskan pengertian agama. Dengan lagu Asmaradana yang merdu, kyai memberi pesan kuat bahwa di tangan orang-orang yang memahami agama dengan baik dan mendalam, maka agama itu menjadi sesuatu yang indah, menentramkan, damai, dan memberi solusi. Kyai berhasil mengubah definisi agama yang abstrak dari para ahli ilmu kalam dan ahli fiqih menjadi konkrit, sederhana dan mudah. Para santri faham tanpa harus menghafal.

Sebaliknya dengan penampilan Hisyam, kyai memberi kesan kuat bahwa agama di tangan orang-orang yang kurang faham akan berubah menjadi gangguan ketentraman, bahkan bisa mengerikan seperti suara biola berantakan yang menyakitkan telinga.

Jika orang atas nama agama menyampaikan pesan dengan marah. bahkan kadang dengan kekerasan, maka sama sekali bukan ajaran agama karena agama tidak pernah mengajarkan kekerasan. Itu hanyalah orang yang belum paham soal agamanya, seperti Hisyam yang tidak paham memainkan biola.

Di tangan seorang maestro musik, lahir bunyi amat indah menyentuh rasa dan menentramkan hati. Sebaliknya di tangan orang yang belum mengerti musik, lahir suara yang menyakitkan telinga. Sayangnya, banyak orang yang baru belajar musik sudah merasa seperti maestro, bahkan berlagak seperti seniman besar. Dia tidak sadar bahwa musik yang dialunkan menyakitkan banyak orang.

Jangan-jangan kita termasuk orang yang berlagak itu. Seringnya tampil di muka umum atau banyaknya pujian dan tepuk tangan memang bisa memabukkan. Kita lalu tidak sadar siapa sebenarnya diri kita . Karena itu sikap rendah hati, tidak merasa benar sendiri serta kesediaan belajar dari orang lain amat kita perlukan.
Dahlan tampil selalu ramah, termasuk kepada orang yang menekan dan memfitnah. Dia sangat tegas tetapi tidak kasar. Kekuatan Dahlan justru pada ketegasan yang lembut, mengontrol emosi dengan pikiran sangat jernih. Roh dari semua itu adalah keikhlasan.

Tiba-tiba saya teringat pelajaran Al-Islam dan Ke-Muhammadiyah-an. Konon ini salah satu pelajaran yang paling tidak disukai siswa. Jangan-jangan gurunya sendiri juga tidak suka mengajarkan pelajaran ini. Mudah-mudahan semua ini tidak benar karena kita tak ingin sekolah Muhammadiyah kehilangan ciri khususnya. Tetapi bagaimana membuat pelajaran al-Islam menarik? Ini tugas besar kita semua. Butuh cara-cara seperti yang dicontohkan kyai Dahlan. Unik dan cerdik. Setiap kejadian bagi Dahlan menjadi sumber dakwah yang menarik. Bahkan ketika seorang siswa kentut di kelas dan suasana jadi gaduh. Dahlan tidak marah. Justru dijadikan pintu masuk menjelaskan soal syukur karena kentut adalah karunia Tuhan yang luar biasa. Para siswa terpukau dengan cara Dahlan mengajar. Akhirnya siswa Muslim dan non-Muslim ketagihan ingin diajar Dahlan.

Dahlan menjadi sumber inspirasi sampai hari ini. Tidak berlebihan Hanung memberi judul 'Sang Pencerah' untuk film yang dibuatnya ini.

Friday, September 3, 2010

Anda Sayang Anak?

Oleh: Nur Cholis Huda

Cerita ini saya ambil dari ciptoadhisetiawan.blogspot.com. Ghana, Kepala cabang sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumah pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Annisa, putri pertamanya yang baru duduk dikelas 3 SD membukakan pintu untuknya. Ia sudah menunggu cukup lama.

"Kok, belum tidur?" sapa Ghana sambil mencium anaknya. Biasanya Annisa sudah lelap ketika is pulang. Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, Annisa berucap: "Aku nunggu Ayah pulang, sebab aku mau nanya, berapa sih gaji ayah?"
"Lho tumben, kok nanya gaji ayah? mau minta uang lagi, ya?"
"Ah.enggak, pengen tahu aja," ucap Annisa.

"OK..kamu boleh hitung sendiri, setiap hari ayah bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp.400.000. Dalam sebulan rata-rata 22 hari kerja. Sabtu-Minggu libur, jadi gaji Ayah dalam 1 bulan berapa hayoo?"

Annisa berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Ghana beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Annisa berlari mengikutinya. "Kalau satu hari Ayah dibayar Rp.400.000 untuk 10 jam, berarti satu jam ayah digaji Rp.40.000, dong," katanya.

"Wah, pintar. Sekarang cuci kaki dan terns tidur", perintah Ghana. Tetapi Annisa tidak beranjak, sam¬bil menyaksikan ayahnya berganti pakaian, Annisa kembali bertanya, "Ayah, aku boleh nggak pinjam uang Rp.5000?"
"Nggak usah macam-macam lagi, buat apa minta uang malam-malam begini? Ayah capek, dan mau mandi dulu, tidurlah".
"Tapi Ayah..."

Kesabaran Ghana pun habis. "Ayah bilang tidur!" hardiknya mengejutkan Annisa. Anak kecil itupun berbalik menuju kamarnya. Usai mandi, Ghana menyesali hardiknya. Ia pun menengok Annisa di kamarnya. Anak kesayangannya itu belum tidur, didapati sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp 15.000 di tangannya. Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Ghana berkata, "Maafkan Ayah, Nak, Ayah sayang sekali sama Annisa. Tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp 5.000, lebih dari itu pun ayah kasih," kata Ghana

"Ayah, aku enggak minta uang, aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan dari uang jajan yang kutabung selama minggu ini"
"Iya, tapi buat apa"? tanya Ghana lembut.
"Aku menunggu Ayah dari jam 8. Aku sudah lama ingin ajak Ayah main ular tangga, tiga puluh menit saja. Mama bilang waktu ayah sangat berharga. Jadi aku mau ganti waktu ayah. Ayah bilang satu jam dibayar Rp 40.000, maka setengah jam aku harus ganti Rp 20.000. Tapi duit tabunganku hanya Rp 15.000. Jadi kurang Rp 5000, makanya aku mau pinjam dari ayah," kata Annisa polos.

Ghana pun terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan hare. Dia baru menyadari temyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk "membeli" kebahagiaan anaknya.

Kita semua, saya dan Anda tentu menyayangi anak kita. Ingin selalu memberi yang terbaik. Persoalannya, bukan seberapa besar pemberian yang telah kita berikan kepada mereka tetapi seberapa besar anak-anak itu merasakan pemberian kita. Banyak orangtua merasa telah memberi limpahan perhatian dan kasih sayang, tetapi anak-anak tidak merasa mendapatkannya bahkan merasa diabaikan, tidak diperhatikan. Kita berikan sesuatu tetapi mereka sebenarnya ingin sesuatu yang lain.

Sering kita merasa tahu segalanya tentang anak kita. Padahal kita tidak benar-benar paham keinginan mereka. Merasa tahu fakultas yang cocok untuk mereka, sekolah, tempat rekreasi, warna pakaian, selera makan dan sebagainya. Annisa hanyalah satu dari jutaan anak yang kurang dipahami orang tuanya.

Penyebabnya mungkin sederhana. Kepada anak-anak, kita lebih banyak bicara daripada mendengar. Padahal menjadi pendengar yang baik adalah kunci bisa memahami anak-anak. Bibir kita satu, telinga kita dua. Ini isyarat agar kita mendengar dua kali lebih banyak daripada bicara. Tetapi yang sering terjadi, kita bicara berlipat-lipat lebih banyak daripada mendengar.

Yang lebih parah, ada orangtua yang sangat jarang mendengar sekaligus sangat jarang bicara kepada anaknya. Bah¬kan sekedar tatap muka pun jarang. Mereka sibuk dengan urusannya sendiri. Mengejar karir dan impian lain. Mereka kaget setelah sesuatu telah terjadi atas diri anaknya. Tetapi nasi sudah menjadi bubur. •