Thursday, September 2, 2010

Pesta Satu Juta Umat

Demokrasi Ala Matahari

Pagi buta selepas Subuh, awal Juli. Yogyakarta bergemuruh. Padat dan sesak, karena setiap orang dari segala penjuru ingin masuk ke Stadion Mandala Krida. Ratusan aparat kepolisian pun bersiaga di setiap sudut jalan menuju stadion yang biasanya dijadikan home base klub sepakbola PSIM Yogyakarta itu, Tempat parkir yang biasanya cukup hanya di sekitar stadion, saat itu juga harus memakan banyak area. Bukan saja stadion, gedung-gedung di sekitarnya yang punya halaman luas juga disulap menjadi tempat parkir.

Lautan manusia itu tidak sedang ingin menyaksikan pertandingan sepak bola. Apalagi Liga Indonesia sudah memasuki waktu libur panjang untuk menyongsong musim kompetisi tahun depan. Jubelan manusia berebut masuk stadion tidak lain untuk menyaksikan pembukaan Muktamar Muhammadiyah ke-46, sekaligus Muktamar Aisyiyah ke-46, dan Muktamar Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) ke-17. Banyak yang ngonthel, ngojek, hingga berjalan kaki. Tidak sedikit pula yang "menyelinap" masuk stadion dengan cara tidur berselimutkan lelangitan semalam sebelum hari meriah itu datang.

Kapasitas stadion yang hanya dapat menampung 17 ribu orang itu benar-benar penuh. Sedari pukul 5 pagi, peserta dan penggembira, berjejal ingin masuk stadion. Pintu Mandala Krida yang terdapat 14 akses pintu masuk, dan 2 pintu gerbang di selatan dan utara, berjubel massa. Bahkan, saking banyaknya gelembung manusia, akses pintu bagian barat-tengah sempat jebol. Selama dua menitan, tim keamanan tidak bisa mengendalikan kepadatan massa yang ingin masuk.

Sekitar 20 ribu bisa tertampung, itu pun melalui pengamanan superketat dari panitia. Dan selebihnya ada satu juta manusia yang mengitari area stadion untuk ikut berdetak jantung menunggu detik-detik pembukaan Muktamar Seabad ini. Pihak panitia berusaha menanggulangi kelebihan kapasitas tersebut dengan menyediakan LCD yang dipasang di luar area Mandala Krida. Sehingga warga yang tidak bisa masuk ke stadion bisa melihat meriahnya pembukaan.

"Layar yang dipasang di luar tidak kelihatan," begitu kata salah satu penggembira Aisyiyah dari Sumatera Utara. Maklum, jejubelan lautan manusia yang terus bergerak layaknya jamaah haji itu tidak meninggalkan ruang bagi pengembira untuk duduk santai melihat layar lebar tersebut. Ditambah dengan terik matahari yang cukup menyengat, membuat gambar yang muncul di layar putih itu menjadi samar-samar.
Sementara suasana di dalam stadion memang sangat indah. Ada dua panggung megah: sebelah timur dan barat. Fungsi panggung di bagian timur digunakan tempat sebagai orchestra dan paduan uuara. Sedangkan di bagian barat untuk tamu VVIP, VIP, serta samping utara dan selatan digunakan untuk penggembira.

Sebelum resmi dibuka, ragam atraksi kreativitas warga Muhammadiyah ditampilkan di tengah-tengah lapangan. Selain orchestra theme song Muktamar yang dibawakan Dwiki Darmawan dengan penyanyi Hedi Yunus, para peserta dan penggembira Muktamar dihibur oleh ketangkasan aktivis Hizbul Wathan (HW) dan Tapak Suci. Para aktivis HW lintas generasi secara elok memainkan ragam gerak drumband, sementara Tapak Suci mengerahkan 1.500 anggotanya untuk memeragakan gerakan silat perguruan silat milik persyarikatan tersebut.

Muktamar secara resmi dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dari Madinah Al-Munawwaroh melalui teleconference. Pelaksanaan teleconference dimulai pukul 09.58 WIB atau 05.58 waktu Madinah. Teleconference berlangsung selama 1 jam 20 menit. "Inilah muktamar berkemajuan karena mendorong penggunaan teknologi," begitu canda satu penggembira yang ditemui MATAN di arena pembukaan.

Lazimnya seremonial yang melibatkan pejabat negara, acara pembukaan juga diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sebagai identitas Muslim, acara lantas dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci al-Quran, sambutan tuan rumah yang diwakili Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sultan Hamengkubuwono, pidato Iftitah Ketua Umum PP Muhammadiyah, dan diakhiri amanat Presiden RI yang sekaligus membuka muktamar.

Dalam pidato Iftitah yang juga dilihat secara langsung oleh Presiden, Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Din Syamsuddin, menyatakan bahwa hubungan Muhammadiyah dengan pemerintah akan tetap baik. Sebab. Muhammadiyah akan tetap membutuhkan pemerintah, dan sebaliknya pemerintah juga membutuhkan Muhammadiyah, yang lebih dulu lahir sebelum adanya negara.

Namun, Din menyatakan bahwa kemitraan yang dilakukan tetaplah dalam bingkai loyalitas kritis. Jika pemerintah bersikap baik dan benar menjalankan konstitusi, Muhammadiyah tidak akan segan-segan berada di depan mendukung pemerintah. Tetapi kalau pemerintah melakukan penyelewengan konstitusi, Muhammadiyah juga tidak akan segan-segan melakukan koreksi. "Sahabat sejati adalah yang mau memberi koreksi, bukan yang selalu memuji penuh basa-basi," kata Din setengah puitis.

Sementara dalam sambutannya, Presiden meminta Muhammadiyah untuk menjadi peneguh dan penyejuk kehidupan bangsa yang majemuk. Muhammadiyah memasuki abad kedua, kata Presiden, harus tetap dapat menegakkan komitmen gerakannya sebagai pembawa misi Islam. "Muhammadiyah memang harus selalu tampil di barisan terdepan untuk menjadi kekuatan perubahan yang bersifat transformatif mendukung terbangunnya umat Islam yang utama," ujar Presiden dalam sambutannya.

***
Di malam hari setelah pembukaan, ada pesta tasyakuran yang disediakan khusus untuk menghibur seluruh peserta dan penggembira muktamar. Diiringi tata lampu yang spektakuler, acara yang dikemas dengan nama "Malam Ta'aruf" ini menghadirkan sajian apik yang mampu menyihir penonton. Acara ini sekaligus sebagai rehat bagi peserta dan penggembira Muktamar untuk sejenak melepaskan penat setelah mengikuti berbagai kegiatan di muktamar.

Pesta malam itu menjadi semakin istimewa karena dimaknai sebagai penanda bahwa organisasi yang didirikan Kyai Haji Ahmad Dahlan tersebut sedang menatap abad kedua. Seniman-seniman terbaik yang dimiliki Indonesia, mulai dari maestro tari Didik Nini Thowok, musisi Dwiki Dharmawan, Emha Ainun Nadjib, Novia Kolopaking, penyanyi Hedi Yunus, Ita Purnama Sari hingga penyair Taufiq Ismail seolah berebut menampilkan kemampuan terbaik mereka pada malam itu.

Selain penampilan yang teristimewa dari seluruh pengisi acara, di malam itu pun ada sajian khas Ketua Umum PP Muhammadiyah. Din Syamsuddin berdandan secara khusus dengan mengenakan pakaian khas daerah Yogyakarta: baju hitam berlukiskan logo Muktamar Satu Abad Muhammadiyah lengkap dengan blankon. Tak ketinggalan, sambutan yang disampaikan dalam acara itu juga banyak menggunakan bahasa Jawa, meski tentunya tetap terpatah-patah.

Malam Ta'aruf tersebut dibuka dengan penampilan tarian kolosal yang dibawakan sekitar seribu murid taman kanak-kanak Bustanul Athfal Aisyiyah (ABA). Penyair Taufiq Ismail kemudian memukau ribuan hadirin dengan puisi yang dibacakannya. Puisi bertemakan kenangan, doa dan rasa syukur dari penyair yang dibesarkan di lingkungan Persyarikatan dimulai dari sebuah sekolah rakyat Muhammadiyah di Surakarta, Jawa Tengah 68 tahun lalu.

Ribuan pelajar Muhammadiyah yang tergabung dalam Sanggar Ahmad Dahlan semakin menghangatkan suasana dengan penampilan enam tarian medley nusantara. Secara bergantian, mereka memeragakan Tari Perisai Bari Kalimantan, Tari Jeppeng dari Sulawesi, Tari Jai Bari Nusa Tenggara Timur, Tari Rodhatsari dari Jawa, Tari Zappin Bari Sumatera, dan Tari Sajojo dari Papua.

Panggung megah berhiasi model atap Masjid Kauman Yogyakarta yang berada di sisi timur stadion kemudian menjadi milik Kyai Kanjeng. Dengan arahan Emha Ainun Nadjib dan Novia Kolopaking, group ini membawakan medley lagu-lagu nusantara hingga manca negara dalam balutan musik khas Kyai Kanjeng.

Tari kreasi baru hasil karya Didik Nini Thowok menjadi puncak Malam Ta'aruf. Tarian tersebut menjadi spektakuler karena ratusan penari yang terlibat di dalamnya mengenakan pakaian khusus yang dilengkapi lampu Light Emitting Diode (LED) berwarna-warni. Tarian tersebut memiliki artian bahwa Muhammadiyah adalah organisasi yang didirikan untuk memerangi kemungkaran dan kemunafikan, sekaligus membuka jalan ke peradaban utama.

Tarian itu diakhiri dengan permainan lampu warna hijau yang menyoroti kostum yang dipakai Didik Nini Thowok. Bukan sekedar kostum biasa, karena pancaran lampu memendarkan sinar yang tidak kalah indahnya. Yaitu logo Muhammadiyah yang berupa matahari yang tak kenal lelah menyinari semua penjuru nusantara.

Seluruh rangkaian pagelaran Malam Ta'aruf tersebut kemudian diakhiri dengan pesta 100 kembang api. Ke Jogja kita kembali, abad kedua kita mulai. Tekad membaja di hati, walau jalan mendaki. Ayo bergandengan tangan, hadapi segala tantangan. Gerakan laskar zaman, jayalah masa depan. [fifin, nafi', abidin, kholid]

No comments:

Post a Comment