Thursday, March 17, 2011

Sudah Benarkah Shalat Kita?

Rasulullah bilang: Shalat merupakan tiang agama, dan merupakan amal yang pertamakali dihisab pada hari kiamat. Lalu, sudah benarkah cara kita shalat?

Ahad pagi di bulan Desember yang mendung. Ratusan orang berduyun, menuju masjid yang terletak di Jalan Barata Jaya VIII/8 Sura­baya, (25/ 12 / 10). Mereka memenuhi masjid Ummul Mu'minin untuk meng­hadiri Seminar Sehari bertajuk "Shalat: Kaifiyah dan Seluk Beluknya dalam Perspektif Fiqih dan Hadits".

Bagi orang yang sudah beragama Islam sejak lahir, seminar ini sepintas terkesan biasa, mengingat teori shalat sudah dikenal dan dilakukan setiap hari. Namun, bagi sebagian yang lain, shalat kadang masih begitu ribet dan susah dilakukan dengan benar. Karena itu, shalat perlu diajarkan sejak dini dengan cara yang benar, sesuai contoh dari Ra­sulullah. "Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat," kata sebuah hadist shahih riwayat Imam Muslim.

Latar belakang inilah yang men­dasari penyelenggaraan seminar sha­ lay ini. Sekitar tiga ratusan peserta demikian serius ketika Nadjib Hamid, yang memoderatori acara tersebut membukanya dengan pertanyaan ringan: sudah benarkah shalat kita? Ia mengi­sahkan, pada suatu ketika ada seorang makmum mengulang shalatnya, karena Sang Imam tidak mengeraskan bacaan basmalah saat membaca al-fatihah. Tapi ada pula makmum yang mengulang shalat lantaran Sang Imam mengeraskan basmalah.

Seminar diawali dengan paparan singkat dan dua pakar hadits, Dr Zainu­din MZ dan Dr Syamsuddin MA. Pem­bahasan dimulai dan masalah takbiratul ihram. Zainudin menjelaskan bahwa ternyata bacaan takbiratul ihram, itu banyak versi. Ada yang membaca Al­lahu A'dham, Allahu Ajbar, dan Allahu Akbar, yang semuanya berarti Allah Maha Besar. Ragam bacaan ini bermuara pada kebanyakan hadits yang berbicara tentang takbiratul ihram, menggunakan kata fakabbir' , bertakbirlah.

"Namun, dari penelitian hadits yang saya lakukan, ternyata ada satu hadits yang menunjukkan secara shahih (te­gas) tentang bunyi takbir, yaitu Allahu Akbar," paparnya. "Mana yang benar atau salah, itu wilayah ahli fiqih. Saya hanya menunjukkan hadits-haditsnya saja," tambahnya.

Selanjutnya, terkait posisi tangan yang berada di atas dada juga kerap menimbulkan perdebatan. Karena dalam hadits nabi "wakana yadla'uha `ala al-shadri", terdapat kata ala, yang dalam ilmu tafsir bermakna "di atas". Sehingga ada yang memahaminya deng­an bersedekap di atas dada hampir ke leher, tapi ada pula yang mengartikan tepat di dada.

"Semuanya punya dalil, begitu juga dengan mereka yang bersedekap di atas letak hati," kata Zainuddin. Tapi menurut dia yang sesuai adalah yang berada persis di dada.

"Menjalankan shalat bukan hanya memenuhi kewajiban struktural, tapi hams pula dilakukan dengan aturan­aturan yang sesuai, supaya fungsional," begitu Dr Syamsuddin yang menjadi pembicara kedua. Shalat juga meru­pakan kewajiban paling utama setelah tauhid. Apabila shalat seorang baik, seluruh amal perbuatannya akan baik. Begitu pula sebaliknya, jika shalatnya rusak, seluruh amal perbuatannya pun rusak. "Karena itu, shalat membutuhkan perhatian serius, jangan sampai ada penyimpangan-penyimpangan yang terdapat dalam praktik shalat," terang Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PWM Jatim.

Agak sedikit berbeda, KH Mu' animal Hamidy Lc yang menjadi narasumber sesi kedua, menguraikan shalat itu adalah selera Allah, sehingga harus sesempurna mungkin. Persoalannya, memahami selera itu paling sulit, kare­na sifatnya relatif. Sesuatu yang oleh seseorang dinilai baik, belum tentu baik menurut orang lain. "Begitulah kira-kira shalat, yang penting kita term berusaha menyempumakan demi melayani selera Tuhan," terang Wakil Ketua PWM Jatim tersebut.

Dalam kajian fiqih, Mu'ammal mene­kankan agar seorang Muslim mewaspadai variabel-variabel rinci dari rukun shalat. Seperti menghadap kiblat atau ka'bah misalnya, yang kini kembali mencuat ke permukaan. Kiblat sebenarnya hanyalah arch, tidak ada yang istimewa di sana: seperti mengandung nilai mistis atau lain sebagainya. menghadap ainul Ka'bah adalah salah satu rukun shalat yang sebenarnya teknis saja. Jangan mengistimewakan Ka'bah secara berle­bihan," terang Mudir Ma'had Aly lil Fiqhi wad Dakwah, Bangil itu.
Setelah break shalat Dhuhur, diskusi fiqhiyah dilanjutkan dengan narasumber KH Ahmad Munir. Masalah sedekap kembali diulas lebih detail. "Saya me­nambahi tentang sedekap tangan, yang ringkasnya mungkin begini, makna di atas dada itu dimaksudkan posisi saat tertidur. Sehingga pada saat posisi berdiri, tangan benar-benar sedekap tepat di dada," tutur Mudir Pondok Modem Muhammadiyah Paciran ini sambil me­meragakan. Sedekap di dada menurutnya bermanfaat untuk posisi dada perempuan yang memang berbeda dengan laki­laki. Ulasan beserta peragaan fisik Munir tak lepas dari bidikan mata para peserta yang sebagian kaum hawa.

Diskusi terus berlangsung seru, hingga sampai pada akhir bahasan tentang dua salam yang menurutnya masih perlu diulas tuntas. Selama ini umumnya umat Islam menutup shalat dengan assalamu 'alaikum wa rahmatullaah, yang didasarkan pada hadits masyhur, sebagaimana dikata­kan al-Shan'ani dalam Subul al-Salam. Sehingga tambahan barakatuh' menjadi polemik di kalangan fuqaha.

Sebagian berpendapat tidak boleh kar­ena haditsnya tidak shahih. Sebagian lain membolehkan dengan alasan ha­ditsnya masyhur. "Tapi menurut saya semuanya sah. Bahkan yang memakai wabarakatuh' di salam pertama saja, atau di salam kedua saja pun boleh," terangnya.

Hingga paparan dari keempat pema­teri usai, para peserta nampaknya masih ingin memperoleh banyak penjelasan tentang ibadah yang satu ini, hingga tak seorang pun beranjak dari tempat duduknya. Tak pelak, ketika dibuka sesi dialog, para peserta menyambut antusias dengan beragam pertanyaan, mulai dari masalah shaf dan pengaruhnya dalam kehidupan bermasyarakat, posisi tangan saat i'tidal, duduk di antara sujud, posisi sujud, bacaan shalat, dan segala tetek­bengek yang terkait, hingga pertanyaan tentang validitas hadits-hadits yang dijadikan dalil para narasumber.

Usai narasumber memberikan jawa­ban, acara ditutup oleh moderator de­ngan sebuah kesimpulan, bahwa benar itu temyata tidak hams selalu tunggal. Ia mencontohkan kasus posisi tangan seseorang pada saat berdiri i 'tidal. Ada yang sedekap, ada pula yang lurus ke bawah, padahal haditsnya satu. "Karena itu, mari kita terus mengkaji, supaya tambah pengetahuan dan toleran dengan perbedaan," pungkas Sekretaris PWM Jatim. Nah, bagaimana?

No comments:

Post a Comment